Entri Populer

Sabtu, 30 Juni 2012

Ketika Kedewasaan Diukur dari Karakter


BEGITU banyak cara untuk menunjukkan seberapa kesal kita pada seseorang. Kita mungkin menerimanya secara wajar sebagaimana makhluk sosial lain yang patut dihargai dan dihormati. Tapi tunggu dulu kalau kita sedang atau terus antipati kepadanya. Contohnya sering kita alami, kok. Misalnya dengan menilai seseorang tidak dewasa sementara diri sendiri merasa dewasa. Ketika ego kita mengharuskan diri kita untuk berada di posisi yang benar sementara yang lain keliru.
Sangat manusiawi, pada dasarnya setiap manusia memang perlu mengalah karena apa yang diterimanya diyakini sebagai sesuatu yang benar. Tapi dalam beberapa karakter manusia tertentu, ada sifat-sifat pembelaan luar biasa dari dirinya, yang tercipta dari ego yang pula luar biasa kuat.

Saya bukan ‘anak’ psikologi, tapi pernah punya mantan pacar yang datang dari jurusan Psikologi. Jadi bisa belajar banyak darinya. Dan inilah pemaparan saya selanjutnya mengenai hal ini. Bagaimana kedewasaan diukur dari beberapa aspek.
Tapi sebelum saya membacot, apakah gerangan definisi dari dewasa itu? Secara indikatif dan sudah menjadi pengertian umum, dewasa adalah bisa mengontrol emosi, tahu mana yang baik dan yang benar, mampu memperlakukan masalah dengan bijaksana, punya falsafah hidup, misi dan visi, arah yang mantap.  Namun pengertian dewasa ini tidak perlu diamini karena sebagian dari kita mungkin akan bingung kala melihat ‘fakta’ di lapangan kalau yang tua belum tentu dewasa, dan yang muda belum tentu tidak dewasa.

Sementara kalau kita melihat faktor biologis, yang dewasa adalah yang sudah menginjak usia 21 tahun  ke atas seperti dalam pasal 330 KUHPerdata yang berbunyi ‘orang yang belum dewasa adalah orang yang belum berusia 21  tahun dan belum pernah kawin sebelumnya’.
Hentikan dulu perdebatan antara kosakata kawin dan nikah. Kawin dalam artian di sini adalah menikah secara resmi. Selanjutnya, seorang dewasa otomatis sudah berhak menjalani perkawinan. Seperti yang  tercantum dalam UU No.1 pasal 50 tahun 1974 tentang perkawinan yang berbunyi ’seseorang dianggap dewasa apabila sudah mencapai usia 18 tahun dan tidak berada di bawah pengawasan orangtua’.

Dan menurt ahli psikologi Ellizabeth B Hurlock, tahap perkembangan manusia dijabarkan sebagai berikut:
1. Masa Pranatal, saat terjadinya konsepsi sampai lahir.
2. Masa Neonatus, saat kelahiran sampai akhir minggu kedua.
3. Masa Bayi, akhir minggu kedua sampai akhir tahun kedua.
4. Masa Kanak- Kanak awal, umur 2 - 6 tahun.
5. Masa Kanak- Kanak akhir, umur 6 - 10 atau 11 tahun.
6. Masa Pubertas (pra adolesence), umur 11 - 13 tahun
7. Masa Remaja Awal, umur 13 - 17 tahun. Masa remaja akhir 17 - 21 tahun.
8. Masa Dewasa Awal, umur 21 - 40 tahun.
9. Masa Setengah Baya, umur 40 – 60 tahun.
10. Masa Tua, umur 60 tahun keatas.

Dan jika kau  menempati posisi nomor 8-lah kita berada, pernahkah kau bertanya pada diri sendiri? Sudahkah kau dewasa? Mari kita hisap teori G.W Alport mengenai perkembangan psikologi manusia tahap kedewasaan.

1. Kau dikatakan dewasa jika mampu memosisikan diri sejenak di posisi orang lain. Itulah yang saya tangkap dari teori pertamanya yang berbunyi ‘extension of self”. Jadi bisa dibayangkan jika kau banyak mengeluh soal bosmu yang memang wajar bertipikal bossy atau tipe penyuruh. Dari sisi ego, kau menganggap si bos menunjukkan kebencian atau kekesalan, tapi di sisi lain kau pasti bisa memosisikan diri sebagai atasan yang juga terepresi (’ditekan’) oleh atasan lain yang berada di atasnya. Alangkah bagus mengurai ranah personal dan ranah profesional. Menujukkan egoisme atau memikirkan diri sendiri tidak akan mengubah apapun selain mencipta tingkah kekanakan yang tolol.

2. Kau dikatakan dewasa jika mampu melihat dirimu sendiri secara objektif (self objection). Kau jugalah seorang manusia yang punya kelebihan dan kekurangan, kau tak harus marah atau tidak menerima kritik atau saran yang diberikan kawanmu. Berbagai macam pandangan dan penilaian seseorang  terhadap kita haruslah dijadikan intropeksi diri, bukan malah melawannya dengan ego sehingga malah memperburuk keadaan.

3. Kau dikatakan dewasa jika memiliki falsafah hidup tertentu (unifyng philosophy of life).Biasanya berhubungan dengan etika dan agama. Ketika kau tak bisa berbuat seenak udel sendiri dalam kehidupan, sebab selalu ada orang yang diam-diam mengkritisi perilakumu. Apalagi melakukan perbuatan yang kelewat ekstrem seperti melakukan tindak anarkisme, korupsi, atau melanggar syariat Islam (jika kau muslim).
Adapula yang menilai kalau dewasa itu erat kaitannya dengan usia yang mapan dan gelar pendidikan yang tinggi. Benarkah?

Usia Menunjukkan Kedewasaan

Tidak juga. Contohnya seorang dewasa yang selingkuh. Ini bisa dijadikan contoh juga, lho. Soalnya mereka mengangkangi komitmen! Di sisi lain mereka mau mempertahankan rumah tangga, di sisi lain mereka mau rasa lain main coba-coba PSK atau kawin siri. Mirip kayak seorang anak lelaki yang suka gonta-ganti mainan. Adapula para koruptor dan pelaku kriminal kerah putih. Dan mungkin seseorang yang pernah menggadang-gadangkan diri untuk digantung di monas.

Gelar Pendidikan Menunjukkan Kedewasaan

Hey, lihat bagaimana dua orang pengacara kondang yang salah satunya anggota DPR berdebat di acara Indonesia Lawyer Club. Sejak SD kita pasti inget soal etika berpendapat, bahwa menyela seseorang ketika mengemukakan pendapat itu perbuatan yang buruk. Tapi apa yang mereka lakukan? Sampai-sampai menyindir-nyindir urusan pribadi segala. Mungkin mereka datang dari suku yang sama. Tapi saya tidak mau rasis. Mungkin itu hanyalah karakter.

MENURUT saya ini semua erat sekali hubungannya dengan karakter. Yeah, rata-rata orang menilai kedewasaan kita dari karakter bawaan yang susah diubah. Meski kadarnya berlainan, namun kalangan introvert kerap dituding sebagai manusia-manusia infantil pemegang ego tak terkendali. Kekurangmampuan mereka beradaptasi atau melakukan basa-basi sosial, membuat mereka dituding sebagai manusia yang mengasingkan diri, antisosial, dan sebagainya dan sebagainya.
Karakter bawaan lainnya adalah seseorang yang punya sensifitas luar biasa. Dia bisa dengan mudah menunjukkan canda tawa jika hati sedang bungah atau rasa sedih  jika hati sedang terluka atau kemarahan jika hati sedang panas.
Yang jelas, menjadi tua itu takdir, tapi menjadi dewasa itu pilihan. Betapa sederhana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar