Entri Populer

Senin, 30 April 2012

Tahapan umum kejadian manusia





Tahapan umum kejadian manusia, sejak awal sampai akhir jaman

Sejak saat paling awal penciptaan alam semesta ini, sampai saat paling akhirnya (akhir jaman), tiap manusia melewati atau mengalami berbagai alam (alam ruh / arwah, alam
rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat, dsb). Sehingga tiap manusia tentunya
juga menghadapi berbagai tahapan kejadian atau pembentukan. Berikut ini
diungkap secara umum, tentang berbagai tahapan kejadian tersebut.

Sejak saat paling awal penciptaan keseluruhan alam semesta ini, sampai saat paling akhirnya (akhir jaman, atau saat berakhirnya kehidupan fisik-lahiriah-duniawi bagi segala makhluk ciptaan-Nya), tiap umat manusia pasti melewati atau mengalami berbagai alam (alam ruh / arwah, alam rahim, alam dunia, alam kubur, alam akhirat, dsb). Sehingga tiap umat manusia tentunya sekaligus pula pasti menghadapi berbagai tahapan kejadian atau pembentukan. Adapun urutan penciptaan alam semesta ini sejak saat paling awal, sampai saat paling akhirnya (akhir jaman), telah diungkap cukup lengkap di dalam artikel/posting terdahulu "Urutan penciptaan alam semesta". Termasuk di dalamnya telah diungkap pula elemen-elemen yang paling dasar, bagi penciptaan alam semesta ini (termasuk penciptaan seluruh umat manusia), yaitu: 'Ruh', 'Materi terkecil' dan 'Energi'.
Hakekat dari tiap makhluk ciptaan-Nya justru pada 'ruhnya' masing-masing. Maka dalam berbagai tahapan kejadian atas tiap umat manusia, sejak awal sampai akhir jaman, juga amat terkait dengan kejadian-kejadian atas 'zat ruhnya' itu sendiri, yang secara umum dan sederhana telah ditunjukkan pada gambar berikut ini. Berbagai tahapan kejadian atas segala makhluk nyata lainnya, pada dasarnya relatif serupa dengan kejadian-kejadian atas manusia. Sedangkan segala makhluk gaib yang memang relatif tidak memiliki tubuh wadah fisik-lahiriah, justru selalu hidup di alam ruh / arwah dan alam akhirat.
Penting diketahui dari artikel/posting terdahulu "Jagalah hati-pikiran", bahwa alam akhirat adalah alam batiniah ruh atau alam pikiran tiap makhuk ciptaan-Nya. Maka pada segala makhuk nyata, alam akhiratnya pasti selalu berjalan bersamaan dengan alam-alam lain yang dialaminya (alam ruh / arwah, alam rahim, alam dunia dan alam kubur), namun alam akhirat berada pada aspek batiniahnya. Dengan sendirinya dari kerangka waktunya, alam ruh / arwah, alam rahim, alam dunia dan alam kubur adalah bagian-bagian dari alam akhiratnya. Sedangkan pada segala makhluk gaib, tentunya hanya dialami bersamaan alam ruh / arwah dan alam akhirat.
Dan juga penting diketahui, bahwa pada saat paling awal penciptaan seluruh zat ruh makhuk ciptaan-Nya, ke dalamnya telah ditanamkan-Nya segala keadaan, sifat atau fitrah dasar, yang sama-sama suci-murni dan tanpa dosa (sebagai bentuk paling awal ke-Maha Adil-an Allah). Sehingga seluruh makhuk ciptaan-Nya (bahkan termasuk pula para syaitan dan iblis), pada awalnya justru masih hidup di Surga (di alam akhirat), serta tentunya juga sekaligus hidup di alam ruh / arwah.
Adapun berbagai tahapan kejadian atas manusia, secara garis besarnya, meliputi:
1. Allah, Maha Awal.
2. Awal penciptaan alam semesta, dari tak-terhitung Ruh dan Atom-materi terkecil, sekaligus 'seluruh' manusia mulai hidup di alam ruh / arwah dan alam akhirat.
3. Ditiupkan-Nya 'zat ruh' tiap manusia ke benih dasar tubuh wadahnya, di rahim induk-ibunya, sekaligus ia mulai hidup di alam rahim.
4. Tiap bayi manusia terlahir ke dunia, sekaligus ia mulai hidup di alam dunia.
5. Kematian medis-teknis tiap manusia (Hari kiamat 'kecil' / saat tiupan sangkakala yang pertama), sekaligus ia mulai hidup di alam kubur.
6. Diangkat-Nya 'zat ruh' tiap manusia dari jasad tubuhnya (saat tiupan sangkakala yang kedua), sekaligus ia mulai hidup di alam ruh / arwah dan alam akhirat.
7. Kematian 'seluruh' manusia terakhir (akhir jaman / Hari kiamat 'besar'), sekaligus 'seluruh' manusia terakhir mulai hidup di alam ruh / arwah dan alam akhirat (tentunya setelah melewati alam kuburnya masing-masing).
8. Hancur-musnahnya alam semesta (jika dikehendaki-Nya), sekaligus hancur-musnahnya 'seluruh' zat makhluk ciptaan-Nya.
9. Allah, Maha Akhir.
Dari gambar berikut tampak cukup jelas, ataupun bisa diungkap beberapa catatan penting lainnya, antara-lain:
1. Hanya Zat Allah Yang Maha Kekal, Maha Awal dan Maha Akhir (tanpa awal dan tanpa akhir).
2. Segala 'zat ruh' makhluk ciptaan-Nya bersifat 'kekal' (sebatas kekekalan usia alam semesta). Hakekat dari tiap makhluk ciptaan-Nya pada 'ruh'-nya (zat dan isinya).
3. Tubuh wadah fisik-lahiriah pada tiap manusia, bersifat 'fana-sementara' (sebatas usia hidupnya di alam dunia).
4. Kehidupan dan alam akhirat, adalah kehidupan dan alam batiniah ruh (pikiran). Surga dan Neraka, adalah keadaan batiniah ruh yang positif (bahagia, senang, mulia, dsb) dan yang negatif (merana, sedih, hina, dsb), yang bersifat hakiki dan kekal (bukan bersifat semu, fana dan fisik-lahiriah-duniawi).
5. Pada saat paling awal penciptaan 'zat ruh' makhuk ciptaan-Nya, ke dalamnya telah ditanamkan-Nya segala keadaan dasar, yang suci-murni dan tanpa dosa (bentuk paling awal ke-Maha Adil-an Allah). Maka seluruh makhuk ciptaan-Nya (termasuk para syaitan dan iblis), pada awalnya justru hidup di Surga (di alam akhirat).
6. Nabi Adam as, para syaitan dan iblis lalu 'diusir atau diturunkan-Nya' dari Surga, karena keadaan batiniah ruhnya masing-masing telah 'mulai' mengandung beban dosa, dari hasil perbuatan dosa 'pertama' mereka ('turun' kemuliaan mereka).
Kejadian pada awal penciptaan manusia ini, amat banyak mengandung "contoh-perumpamaan simbolik", maka mestinya dipahami secara amat cermat, hati-hati dan mendalam.
7. Setelah ditiupkan-Nya zat ruh tiap manusia ke tubuh wadahnya, suatu saat zat ruh inipun pasti akan kembali kepada-Nya (dicabut, diangkat atau dibangkitkan-Nya), untuk hidup di alam ruh /arwah dan alam akhirat, yang 'gaib' dan 'kekal'.
8. Setelah kematian tiap manusia, telah selesai segala kehidupan fisik-lahiriahnya, dan memulai kehidupan akhirat di Surga & di Neraka (kehidupan batiniah ruhnya).
9. Alam akhirat bagi tiap manusia (alam batiniah ruhnya), terjadi sepanjang usia zat ruhnya sendiri. Sehingga dari kerangka waktunya, alam ruh / arwah, alam rahim, alam dunia dan alam kuburnya adalah bagian-bagian dari alam akhiratnya.
10. Alam akhirat bagi tiap manusia, pada saat awal penciptaan alam semesta (tahapan B pada gambar), dan pada saat akhirnya (tahapan F & G), adalah alam akhiratnya yang murni dan sebenarnya (tidak bercampur dengan alam-alam fisik-lahiriah).
11. Pembangunan kehidupan akhirat tiap manusia, hanya semata bisa dilakukan selama di alam dunia, melalui segala bentuk amal-perbuatannya, yang pasti mengubah segala keadaan batiniah ruhnya (terutama berupa pahala-Nya dan beban dosa).
Setelah Hari Kiamat atau saat kematiannya, segala amalannya telah terputus.
12. Hari Kiamat ada 2 macam, yaitu: Hari Kiamat 'kecil' (saat kematian atas 'tiap' manusia) dan Hari Kiamat 'besar' (saat kematian atas 'seluruh' manusia terakhir / akhir jaman). Tiap manusia memiliki Hari Kiamatnya masing-masing.
13. Tiap manusia memiliki kehidupan dan alam akhiratnya masing-masing (kehidupan dan alam batiniah ruhnya). Dan tentunya tiap manusia juga memiliki Surga dan Nerakanya masing-masing (segala keadaan batiniah ruhnya).
14. Surga dan Neraka secara 'umum' (Surga 'besar' dan Neraka 'besar'), adalah 'rangkuman simbolik' atas tak-terhitung jumlah Surga 'kecil' dan Neraka 'kecil', yang telah diperoleh melalui segala amal-perbuatan di alam dunia.
Dimana Surga 'kecil' adalah pahala-Nya dari tiap amal-kebaikan. Serta Neraka 'kecil' adalah beban dosa dari tiap amal-keburukan.
15. Surga dan Neraka secara 'khusus', yang dijanjikan-Nya bagi tiap manusia, yang telah melakukan berbagai amal-perbuatan tertentu, adalah Surga 'kecil' dan Neraka 'kecil', yang nilainya memang relatif amat tinggi (pahala-Nya dan beban dosanya).
16. Surga (Surga 'besar') adalah 'rangkuman simbolik' atas segala keadaan batiniah ruh tiap manusia di Hari Kiamat, yang jumlah nilai amal-kebaikan (seluruh pahala-Nya) lebih besar daripada jumlah nilai amal-keburukannya (seluruh beban dosanya).
Hal yang sebaliknya dengan Neraka (Neraka 'besar').
17. Pahala-Nya (Surga 'kecil') dan beban dosa (Neraka 'kecil') justru bersifat 'kekal', sejak diperoleh melalui tiap amal-kebaikan dan keburukan di alam dunia.
Namun tiap beban dosa bisa relatif 'tertutupi' (sama sekali bukan terhapus atau hilang), oleh segala pahala-Nya terkait (termasuk dari hasil bertaubat). Sebaliknya, tiap pahala-Nya juga bisa relatif 'tertutupi' oleh segala beban dosa terkait.
18. Secara alamiah, tiap saatnya tiap manusia bisa 'berpindah-pindah' (berubah-ubah keadaan batiniah ruhnya), dari Surga 'kecil' ke Neraka 'kecil' (ataupun sebaliknya), tergantung 'catatan' tiap amal-perbuatannya yang 'sedang' dibukakan, diberitakan atau dibacakan, oleh para malaikat pencatat amal-kebaikan dan keburukannya (Rakid dan 'Atid).

Keterangan gambar

Berbagai tahapan kejadian manusia dan alam semesta.
Gambar di atas pada dasarnya lebih menunjukkan keterkaitan antara kejadian umum di alam semesta dan berbagai kejadian atas zat ruh tiap manusia.
Waktu mulai dan lamanya tiap tahapan, bisa relatif berbeda antar tiap manusia, sejak dari manusia pertama (nabi Adam as), sampai manusia-manusia terakhir di akhir jaman. Termasuk ada pula manusia ynag relatif tidak mengalami suatu tahapan (lama waktunya relatif amat sangat singkat).
Namun berbagai tahapan kejadian atas tiap manusia, pada dasarnya sama, yaitu:
  • Manusia awalnya mati (diciptakan-Nya ruhnya, serta manusia masih berupa ruh dan masih hidup di alam ruh dan alam akhirat, juga belum menjadi makhluk nyata yang utuh);
  • Manusia dihidupkan-Nya (ditiupkan-Nya ruhnya ke benih dasar tubuh fisik-lahiriahnya, serta manusia lahir, hidup dan tumbuh di alam dunia);
  • Manusia dimatikan-Nya (dimatikan-Nya tubuh fisik-lahiriahnya, serta manusia hidup di alam kubur);
  • Manusia dihidupkan-Nya kembali (dicabut atau dibangkitkan-Nya ruhnya dari jasad tubuh fisik-lahiriahnya, serta manusia hidup di alam akhirat dan alam ruh).
"Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada Allah-lah kamu dikembalikan." – (QS.2:28).

"Dan Dia-lah Allah, Yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu, sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari nikmat." – (QS.22:66).
Berbagai catatan tambahan tentang tiap tahapan atau periode:
Kolom 'lama waktu', 'waktu mulai' dan 'waktu selesai' pada tabel di bawah, relatif hanya ditinjau pada konteks kerangka waktu 'tiap' manusia (antar manusia bisa relatif berbeda waktu mulai dan lamanya).

Tahap

Waktu mulai

Waktu selesai

Lama waktu

A
-tidak terbatas-
Awal penciptaan alam semesta.
Kekal (Zat Allah Yang Maha Awal), sampai Allah akan menciptakan alam semesta ini.
Dan sama sekali belum ada zat ciptaan-Nya.
B
Awal penciptaan alam semesta, dimulai dengan diciptakan-Nya segala ketetapan-Nya bagi alam semesta (termasuk sunatullah / aturan-Nya). Lalu diciptakan-Nya tak-terhitung jumlah 'Ruh' dan 'Materi terkecil'.
Awal penciptaan tiap manusia di dunia.
Milyaran tahun ataupun lebih di alam ruh & alam akhirat, ataupun lama penciptaan alam semesta.
Seluruh makhluk ciptaan-Nya masih hidup di Surga, serta masih berupa ruh.
C
Awal ditiupkan-Nya zat ruh tiap manusia, ke benih dasar tubuhnya, yang lalu menjadi sel janin.
Awal kelahiran tiap manusia.
Sekitar 9 bulan di alam rahim induknya, ataupun lama pembentukan tubuh janin.
D
Awal kelahiran tiap bayi manusia di dunia, untuk memulai kehidupan fisik-lahiriah-duniawinya.
Awal kematian medis-teknis tiap manusia.
Sekitar 0 tahun − usia terpanjang manusia di alam dunia, ataupun lama usia hidup tiap manusia.
E
Awal kematian medis-teknis pada tiap manusia di dunia (Hari kiamat kecil / saat tiupan sangkakala pertama), akibat tidak berfungsinya berbagai organ penting tubuhnya.
Awal kebangkitan tiap manusia.
Sekitar puluhan hari di alam kubur, ataupun lama pembusukan jasad tiap manusia, sampai saat kematian sel benih dasar tubuhnya (tempat zat ruhnya berada).
F
Awal dibangkitkan, diangkat atau dikumpulkan-Nya 'zat ruh' tiap manusia, dari sel benih dasar tubuhnya yang telah mati (saat tiupan sangkakala kedua), untuk hidup di Surga & di Neraka (di alam akhirat).
Awal hancurnya Bumi dan sistem tata surya.
Sekitar ratusan ribu tahun ataupun lebih di alam akhirat, ataupun lama tahapan 'berkumpul' zat ruh seluruh manusia. Namun tiap manusia yang telah dibangkitkan-Nya, tentunya juga sambil menerima pembalasan terakhir.
G
Awal hancurnya Bumi dan sistem tata surya (akhir jaman / Hari kiamat besar), atau kematian atas seluruh manusia terakhir di dunia.
Awal hancurnya alam semesta (jika dikehendaki-Nya).
-tidak diketahui-, ataupun lama pembalasan terakhir.
Seluruh manusia hidup kekal di Surga & di Neraka (sampai dikehendaki-Nya lain).
H
Awal hancurnya alam semesta (jika dikehendaki-Nya), atau hancurnya seluruh zat ciptaan-Nya (akhir alam semesta).
-tidak terbatas-
Kekal (Zat Allah Yang Maha Akhir), dengan ataupun tanpa segala zat makhluk ciptaan-Nya (tergantung kehendak-Nya).
Amat penting diketahui, bahwa telah dijanjikan-Nya di dalam kitab suci Al-Qur'an, seperti "setelah Hari Kiamat, tiap manusia hidup kekal di Surga ataupun di Neraka" (pada QS.25:, QS.72:, QS.23:, QS.102:, QS.15:, dsb). Sehingga setelah Hari Kiamat ataupun akhir jaman, seluruh alam semesta ini (beserta segala makhluk ciptaan-Nya di dalamnya), pada dasarnya tidak dikehendaki untuk dihancurkan atau dimusnahkan oleh Allah, Tuhan Yang Maha Penyayang (tahapan H relatif tidak ada, atau menyatu dengan tahapan G).
Setelah Hari Kiamat 'besar' (akhir jaman / saat kematian 'seluruh' manusia terakhir / saat berakhirnya kehidupan fisik-lahiriah-duniawi), segala zat ruh makhluk ciptaan-Nya masih tetap ada bersama-sama dengan Zat Allah, Yang Maha Kekal dan Maha Akhir. Serta segala makhluk ciptaan-Nya hidup kekal di Surga ataupun di Neraka (di alam akhirat), dan sekaligus hidup di alam ruh / arwah, serupa halnya kehidupan para makhluk gaib saat ini. (http://islamagamauniversal.wordpress.com/2011/11/24/tahapan-kejadian-manusia/)

Rabu, 25 April 2012

Pria Dalam ISLAM

Allah Swt telah menetapkan pria sebagai sosok pelindung lawannya, yaitu wanita. Dipandangan islam, pria haruslah bersikap pemberani dan pemimpin bagi kaumnya.
 
A.Kewajiban mencari nafkah
Bagi islam, usaha untuk mencari nafkah sebagai kewajiban bagi seorang pria. Sebaliknya, mancari nafkah tidak ditetapkan sebagai kewajiban bagi wanita, tetapi hanya sekedar mubah(boleh) saja- jika dia menghendaki, dia boleh melakukannya. Allah Swt berfirman :
Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah sesuai dengan kemampuannya. (QS. At-talaq: 7)
Dalam ayat di atas, yang dianggap mampu tidak disebutkan kecuali pria. Allah Swt. Juga berfirman :
Kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan makruf.(QS al-baqarah : 23)
Artinya, Allah telah menetapkan bahwa mencari nafkah adalah kewajiban bagi pria.
1. Kewajiban kepemimpinan
Islam telah menetapkan bahwa urusan kepemimpinan ( qawwamah)- di dalam rumah tangga-adalah diperuntukkan bagi pria atas wanita. Artinya, para suami memiliki wewenang untuk mengendalikan kepemimpinan sera mengeluarkan perintah dan larangan di dalam kehidupan rumah tangga. Allah Swt. Berfirman:
Kaum pria dan para suami adalah pemimpin kaum wanita (para istri) karena Allah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka (kaum pria) atas sebagian yang lain (kaum wanita), dan kaena mereka telah memberikan nafkah dari sebagian hata mereka. Oleh karena itu wanita–wanita yang saleh adalah mereka yang senantiasa berlaku taat kepada Allah dan memelihara diri pada saat suaminya tidak ada karena Allah telah memelihara mereka. Sementara itu, erhadap para wwanita yang kalian khawatirkan nusyz(pertentangan)nya, hendaklah yang kalian menasihati mereka, memmisahkan mereka dari tempat tidur mereka, dan memukul mereka. Akan tetapi, jika mereka menaati kalian, janganlah kalian mencari-cari jalan ( untuk menyusahkan mereka). Sesungguhnya Allah maha tinggi dan maha besar. (QS. Annisa :3)
Dengan demikian, Allah Swt. Telah menjelaskan bahawa kepemimpinan dalam rumah tangga merupakan kewenangan pria, karena dia telah menetapkan berbagi kelebihan kepada merek adalam kaitannya dengan sejumlah taklif seperti : kekuasaan dalam pemerintahan, imam dalam shalat, wali dalm pernikahan, dan hak menjatuhkan talak dalm peceraian. Allah Swt. Berfirman, sebagaimana dikemukakan dalam ayat diatas demikian :
karena Allah memberikan kelebihan kepada sebagian mereka (kaum pria) atas sebagian yang lain(QS an-Nisa : 3)
ihwal kepemimian ini ditunjukkan oleh adanya taklif atas pundak pria (para suami) untuk memberikan mahar dan nafkah, sebagaiman firmannya :
karena mereka telah memberikan dari harta-harta mereka. (QS. An-Nisa :3)
lebih dari itu Allah Swt. Juga telah menetapkan adanya hak bagi seorang suami untuk mendidik isrinya dengan cara memberi nasihat yang baik, memisahkan tempat tidurnya, atau memukulnya dengan pukulan yang tidak sampai menyakitkan; sesuai dengan kadar dosa (pelanggaran) yang dlakukan. Sikap semacam ini dilakukan jika memang istri melakukan kedurhakaan, kemaksiatan, atau penentangan terhadap suami.
 
B. Pria Tidak Islami
1. Akidahnya Amburadul
Di antara ciri pria semacam ini adalah ia punya prinsip bahwa jika cinta ditolak, maka dukun pun bertindak. Jika sukses dan lancar dalam bisnis, maka ia pun menggunakan jimat-jimat. Ingain buka usaha pun ia memakai pelarisan. Jika berencana nikah, harus menghitung hari baik terlebih dahulu. Yang jadi kegemarannya agar hidup lancar adalah mempercayai ramalan bintang agar semakin PD dalam melangkah. Inilah ciri pria yang tidak pantas dijadikan idaman. Akidah yang ia miliki sudah jelas adalah akidah yang rusak. Ibnul Qayyim mengatakan, “Barangsiapa yang hendak meninggikan bangunannya, maka hendaklah dia mengokohkan pondasinya dan memberikan perhatian penuh terhadapnya. Sesungguhnya kadar tinggi bangunan yang bisa dia bangun adalah sebanding dengan kekuatan pondasi yang dia buat. Amalan manusia adalah ibarat bangunan dan pondasinya adalah iman.” (Al Fawaid)
Berarti jika aqidah dan iman seseorang rusak -padahal itu adalah pokok atau pondasi-, maka bangunan di atasnya pun akan ikut rusak. Perhatikanlah hal ini!
2. Menyia-nyiakan Shalat
Tidak shalat jama’ah di masjid juga menjadi ciri pria bukan idaman. Padahal shalat jama’ah bagi pria adalah suatu kewajiban sebagaimana disebutkan dalam al Qur’an dan berbagai hadits. Berikut di antaranya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, seorang lelaki buta datang kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dan berkata,
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِى قَائِدٌ يَقُودُنِى إِلَى الْمَسْجِدِ.
فَسَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُرَخِّصَ لَهُ
فَيُصَلِّىَ فِى بَيْتِهِ فَرَخَّصَ لَهُ فَلَمَّا وَلَّى دَعَاهُ فَقَالَ «
هَلْ تَسْمَعُ النِّدَاءَ بِالصَّلاَةِ ». فَقَالَ نَعَمْ. قَالَ « فَأَجِبْ .
”Wahai Rasulullah, saya tidak memiliki penunjuk jalan yang dapat mendampingi saya untuk mendatangi masjid.” Maka ia meminta keringanan kepada Rasulullah untuk tidak shalat berjama’ah dan agar diperbolehkan shalat di rumahnya. Kemudian Rasulullah memberikan keringanan kepadanya. Namun ketika lelaki itu hendak beranjak, Rasulullah memanggilnya lagi dan bertanya, “Apakah kamu mendengar adzan?” Ia menjawab, ”Ya”. Rasulullah bersabda, ”Penuhilah seruan (adzan) itu.*” (HR. Muslim). Orang buta ini tidak
dibolehkan shalat di rumah apabila dia mendengar adzan. Hal ini menunjukkan bahwa memenuhi panggilan adzan adalah dengan menghadiri shalat jama’ah. Hal ini ditegaskan kembali dalam hadits Ibnu Ummi Maktum. Dia berkata, :
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الْمَدِينَةَ كَثِيرَةُ الْهَوَامِّ وَالسِّبَاعِ.
فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « أَتَسْمَعُ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ
حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ فَحَىَّ هَلاَ.
“Wahai Rasulullah, di Madinah banyak sekali tanaman dan binatang buas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apakah kamu mendengar seruan adzan hayya ‘alash sholah, hayya ‘alal falah? Jika iya, penuhilah seruan adzan tersebu*”.” (HR. Abu Daud. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih
Lihatlah laki-laki tersebut memiliki beberapa udzur: [1] dia adalah seorang yang buta, [2] dia tidak punya teman sebagai penunjuk jalan untuk menemani, [3] banyak sekali tanaman, dan [4] banyak binatang buas. Namun karena dia mendengar adzan, dia tetap diwajibkan menghadiri shalat jama’ah. Walaupun punya berbagai macam udzur semacam ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerintahkan dia untuk memenuhi panggilan adzan yaitu melaksanakan shalat jama’ah di masjid. Bagaimana dengan orang yang dalam keadaan tidak ada udzur sama sekali, masih diberi kenikmatan penglihatan dan sebagainya?! Imam Asy Syafi’i sendiri mengatakan, “Adapun shalat jama’ah, aku tidaklah memberi keringanan bagi seorang pun untuk meninggalkannya kecuali bila ada udzur.*” (Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 107)
Jika pria yang menyia-nyiakan shalat berjama’ah di masjid saja bukan merupakan pria idaman, lantas bagaimana lagi dengan pria yang tidak menjalankan shalat berjama’ah sendirian maupun secara berjama’ah?! Seorang ulama besar, Ibnu Qayyim Al Jauziyah, dalam kitabnya Ash Sholah wa Hukmu Tarikiha, hal. 7, mengatakan, ”*Kaum muslimin tidaklah berselisih pendapat (sepakat) bahwa meninggalkan shalat wajib (shalat lima waktu)
dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, zina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.*”
3. Sering Melotot Sana Sini
Inilah ciri berikutnya, yaitu pria yang sulit menundukkan pandangan ketika melihat wanita. Inilah ciri bukan pria idaman. Karena Allah berfirman,
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ
ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.
(QS. An Nur: 30)
Dalam ayat ini, Allah memerintahkan kepada para pria yang beriman untuk menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan yaitu wanita yang bukan mahrom. Namun jika ia tidak sengaja memandang wanita yang bukan mahrom, maka hendaklah ia segera memalingkan pandangannya. Dari Jarir bin Abdillah, beliau mengatakan,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ نَظَرِ الْفُجَاءَةِ
فَأَمَرَنِى أَنْ أَصْرِفَ بَصَرِى.
“Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang pandangan yang cuma selintas (tidak sengaja). Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepadaku agar aku segera memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim no. 5770)
Boleh jadi laki-laki tersebut jika telah menjadi suami malah memandang lawan jenisnya sana-sini ketika istrinya tidak melihat. Kondisi seperti ini pun telah ditegur dalam firman Allah,
يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ
“Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan
oleh hati.” (QS. Ghofir: 19) Ibnu ‘Abbas ketika membicarakan ayat di atas, beliau mengatakan bahwa yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah seorang yang bertamu ke suatu rumah. Di rumah tersebut ada wanita yang berparas cantik. Jika tuan rumah yang menyambutnya memalingkan pandangan, maka orang tersebut melirik wanita tadi. Jika tuan rumah tadi memperhatikannya, ia pun pura-pura menundukkan pandangan. Dan jika tuan rumah sekali lagi berpaling, ia pun melirik wanita tadi yang berada di dalam rumah. Jika tuan rumah sekali lagi memperhatikannya, maka ia pun pura-pura menundukkan pandangannya. Maka sungguh Allah telah mengetahui isi hati orang tersebut yang akan bertindak kurang ajar. Kisah ini diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (12/181-182). Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Allah itu mengetahui setiap mata yang memandang apakan ia ingin khianat ataukah tidak.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid dan Qotadah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 12/182, Darul Qurthubah)
4. Senangnya Berdua-duaan
Inilah sikap pria yang tidak baik yang sering mengajak pasangannya yang belum halal baginya untuk berdua-duaan (baca: berkhalwat). Berdua-duaan (khokwat) di sini bisa pula bentuknya tanpa hadir dalam satu tempat, namun lewat pesan singkat (sms), lewat kata-kata mesra via FB dan lainnya. Seperti ini pun termasuk semi kholwat yang juga terlarang.
Dari Ibnu Abbas, Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam *bersabda,
لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita kecuali jika bersama mahromnya.*” (HR. Bukhari, no. 5233) Rasulullah* shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلاَ لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ لاَ تَحِلُّ لَهُ ، فَإِنَّ
ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ ، إِلاَّ مَحْرَمٍ
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya karena sesungguhnya syaithan adalah orang ketiga di antara mereka berdua kecuali apabila bersama mahromnya.”(HR. Ahmad no. 15734. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits ini shohih ligoirihi)
5. Tangan Suka Usil
Ini juga bukan ciri pria idaman. Tangannya suka usil menyalami wanita yang tidak halal baginya. Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam *pun ketika berbaiat dan kondisi lainnya tidak pernah menyentuh tangan wanita yang tidak halal baginya. Dari Abdulloh bin ‘Amr, ”*Sesungguhnya Rasulullah tidak pernah berjabat tangan dengan wanita ketika berbaiat.*” (HR. Ahmad dishohihkan oleh Syaikh Salim dalam Al Manahi As Syari’ah)
Dari Umaimah bintu Ruqoiqoh dia berkata, ”*Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya aku tidak pernah menjabat tangan para wanita, hanyalah perkataanku untuk seratus orang wanita seperti perkataanku untuk satu orang wanita*.” (HR. Tirmidzi, Nasai, Malik dishohihkan oleh Syaikh Salim Al Hilaliy)
Zina tangan adalah dengan menyentuh lawan jenis yang bukan mahrom sehingga ini menunjukkan haramnya. Dari Abu Hurairah *radhiyallahu ‘anhu *, Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda,
كُتِبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ
مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالأُذُنَانِ زِنَاهُمَا
الاِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ
وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ
ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ
“*Setiap anak Adam telah ditakdirkan bagian untuk berzina dan ini suatu yang pasti terjadi, tidak bisa tidak. Zina kedua mata adalah dengan melihat. Zina kedua telinga dengan mendengar. Zina lisan adalah dengan berbicara. Zina tangan adalah dengan meraba (menyentuh). Zina kaki adalah dengan melangkah. Zina hati adalah dengan menginginkan dan berangan-angan. Lalu kemaluanlah yang nanti akan membenarkan atau mengingkari yang demikian.*” (HR. Muslim no. 6925)
6. Tanpa Arah yang Jelas*
Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa sallam *bersabda,
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ
“*Seseorang dianggap telah berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.*” (HR. Muslim no. 996)
Berarti kriteria pria idaman adalah ia bertanggungjawab terhadap istrinya dalam hal nafkah.
Sehingga seorang pria harus memiliki jalan hidup yang jelas dan tidak boleh ia hidup tanpa arah yang sampai menyia-nyiakan tanggungannya. Sejak dini atau pun sejak muda, ia sudah memikirkan bagaimana kelak ia bisa menafkahi istri dan anak-anaknya. Di antara bentuk persiapannya adalah dengan belajar yang giat sehingga kelak bisa dapat kerja yang mapan atau bisa berwirausaha mandiri. Begitu pula hendaknya ia tidak melupakan istrinya untuk diajari agama. Karena untuk urusan dunia mesti kita urus, apalagi yang sangkut pautnya dengan agama yang merupakan kebutuhan ketika menjalani hidup di dunia dan akhirat. Sehingga sejak dini pun, seorang pria sudah mulai membekali dirinya dengan ilmu agama yang cukup untuk dapat mendidik istri dan keluarganya. Sehingga dari sini, seorang pria yang kurang memperhatikan agama dan urusan menafkahi istrinya patut dijauhi karena ia sebenarnya bukan pria idaman yang baik.

40 Keistimewaan Wanita

Berikut merupakan keistimewaan wanita menurut Islam, menunjukkan betapa Islam begitu menghormati dan menghargai para wanita yang sholehah.
  1. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh.
  2. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, derajatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah S.W.T. dan orang yang takutkan Allah S.W.T. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
  3. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah) lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedekah.
  4. Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak pria. Maka barang siapa yang menyukakan anak perempuan seolah- olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail A.S.
  5. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku (Rasulullah S.A.W.) di dalam syurga.
  6. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa takwa serta bertanggungjawab, maka baginya adalah syurga.
  7. Daripada Aisyah r.a. “Barang siapa yang diuji dengan se Suatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya daripada api neraka.
  8. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
  9. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibu bapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
  10. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
  11. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan direkannya (serta menjaga sembahyang dan puasanya).
  12. Aisyah r.a. berkata “Aku bertanya kepada Rasulullah S.A.W., siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita? Jawab baginda, “Suaminya.” “Siapa pula berhak terhadap pria?” tanya Aisyah kembali, Jawab Rasulullah S.A.W. “Ibunya.”
  13. Perempuan apabila sembahyang lima waktu, puasa bulan Ramadan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu syurga mana sahaja yang dia kehendaki.
  14. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah S.W.T. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya (10,000 tahun).
  15. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah S.W.T. menatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
  16. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah S.W.T. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah S.W.T.
  17. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
  18. Apabila telah lahir (anak) lalu disusui, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya diberi satu kebajikan.
  19. Apabila semalaman (ibu) tidak tidur dan memelihara anaknya yang sakit, maka Allah S.W.T. memberinya pahala seperti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah S.W.T.
  20. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
  21. Seorang wanita yang jahat adalah lebih buruk dari pada 1,000 pria yang jahat.
  22. Rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
  23. Wanita yang memberi minum air susu ibu (asi) kepada anaknya daripada badannya (susu badannya sendiri) akan dapat satu pahala dari pada tiap-tiap titik susu yang diberikannya.
  24. Wanita yang melayani dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan mendapat pahala jihad.
  25. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suami yang melihat isterinya dengan kasih sayang akan dipandang Allah dengan penuh rahmat.
  26. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumah tangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 malaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
  27. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila dia hiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
  28. Wanita yang memerah susu binatang dengan “bismillah” akan didoakan oleh binatang itu dengan doa keberkatan.
  29. Wanita yang menguli tepung gandum dengan “bismillah”, Allah akan berkatkan rezekinya.
  30. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di baitullah.
  31. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
  32. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
  33. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.
  34. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
  35. Jika wanita melayani suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.
  36. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempo(2½ thn),maka malaikat-malaikat dilangit akan khabarkan berita bahwa syurga wajib baginya. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.
  37. Jika wanita memicit/mijat suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tola emas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala 7 tola perak.
  38. Wanita yang meninggal dunia dengan keredhaan suaminya akan memasuki syurga.
  39. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
  40. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat, tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya yaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.
    http://dhika.cikul.or.id/40-keistimewaan-wanita.html

Mr Bean - Goes to the Hospital

BENYAMIN FILM(MUSUH BEBUYUTAN PART 1)

Ratu Amplop 8

Selasa, 24 April 2012

Sejarah Radio

Sejarah radio adalah sejarah teknologi yang menghasilkan peralatan radio yang menggunakan gelombang radio. Awalnya sinyal pada siaran radio ditransmisikan melalui gelombang data yang kontinyu baik melalui modulasi amplitudo (AM), maupun modulasi frekuensi (FM). Metode pengiriman sinyal seperti ini disebut analog. Selanjutnya, seiring perkembangan teknologi ditemukanlah internet, dan sinyal digital yang kemudian mengubah cara transmisi sinyal radio

  

Sejarah Penggunaan Radio

Rata-rata pengguna awal radio adalah para maritim, yang menggunakan radio untuk mengirimkan pesan telegraf menggunakan kode morse antara kapal dan darat. Salah satu pengguna awal termasuk Angkatan Laut Jepang yang memata-matai armada Rusia saat Perang Tsushima pada tahun 1901. Salah satu penggunaan yang paling dikenang adalah saat tenggelamnya RMS Titanic pada tahun 1912, termasuk komunikasi antara operator di kapal yang tenggelam dengan kapal terdekat dan komunikasi ke stasiun darat. Radio digunakan untuk menyalurkan perintah dan komunikasi antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut di kedua pihak pada Perang Dunia II; Jerman menggunakan komunikasi radio untuk pesan diplomatik ketika kabel bawah lautnya dipotong oleh Britania. Amerika Serikat menyampaikan Program 14 Titik Presiden Woodrow Wilson kepada Jerman melalui radio ketika perang. Siaran mulai dapat dilakukan pada 1920-an, dengan populernya pesawat radio, terutama di Eropa dan Amerika Serikat. Selain siaran, siaran titik-ke-titik, termasuk telepon dan siaran ulang program radio, menjadi populer pada 1920-an dan 1930-an Penggunaan radio dalam masa sebelum perang adalah untuk mengembangan pendeteksian dan pelokasian pesawat dan kapal dengan penggunaan radar. Sekarang, radio banyak bentuknya, termasuk jaringan tanpa kabel, komunikasi bergerak di segala jenis, dan juga penyiaran radio. Sebelum televisi terkenal, siaran radio komersial termasuk drama, komedi, beragam show, dan banyak hiburan lainnya; tidak hanya berita dan musik saja.

Radio AM

Radio AM (modulasi amplitudo) bekerja dengan prinsip memodulasikan gelombang radio dan gelombang audio. Kedua gelombangg ini sama-sama memiliki amplitudo yang konstan. Namun proses modulasi ini kemudian mengubah amplitudo gelombang penghantar (radio) sesuai dengan amplitudo gelombang audio.
Pada tahun 1896 ilmuwan Italia, Guglielmo Marconi mendapat hak paten atas telegraf nirkabel yang menggunakan dua sirkuit. Pada saat itu sinyal ini hanya bisa dikirim pada jarak dekat. Namun, hal inilah yang memulai perkembangan teknologi radio. Pada tahun 1897 Marconi kembali mempublikasikan penemuan bahwa sinyal nirkabel dapat ditransmisikan pada jarak yang lebih jauh (12 mil). Selanjutnya, pada 1899 Marconi berhasil melakukan komunikasi nirkabel antara Perancis dan Inggris lewat Selat Inggris dengan menggunakan osilator Tesla.
John Ambrose Fleming pada tahun 1904 menemukan bahwa tabung audion dapat digunakan sebagai receiver nirkabel bagi teknologi radio ini. Dua tahun kemudian Dr. Lee deForest menemukan tabung elektron yang terdiri dari tiga elemen (triode audion). Penemuan ini memungkinkan gelombang suara ditransmisikan melalui sistem komunikasi nirkabel. Tetapi sinyal yang ditangkap masih sangat lemah. Barulah pada tahun 1912 [[Edwin Howard Armstrong menemukan penguat gelombang radio disebut juga radio amplifier. Alat ini bekerja dengan cara menangkap sinyal elektromagnetik dari transmisi radio dan memberikan sinyal balik dari tabung. Dengan begitu kekuatan sinyal akan meningkat sebanyak 20.000 kali perdetik. Suara yang ditangkap juga jauh lebih kuat sehingga bisa didengar langsung tanpa menggunakan earphone. Penemuan ini kemudian menjadi sangat penting dalam sistem komunikasi radio karena jauh lebih efisien dibandingkan alat terdahulu. Meskipun demikian hak paten atas amplifier jatuh ke tangan Dr. Lee deforest. Sampai saat ini radio amplifier masih menjadi teknologi inti pada pesawat radio.
Awalnya penggunanaan radio AM hanya untuk keperluan telegram nirkabel. Orang pertama yang melakukan siaran radio dengan suara manusia adalah Reginald Aubrey Fessenden. Ia melakukan siaran radio pertama dengan suara manusia pada 23 Desember 1900 pada jarak 50 mil (dari Cobb Island ke Arlington, Virginia) Saat ini radio AM tidak terlalu banyak digunakan untuk siaran radio komersial karena kualitas suara yang buruk.


Radio FM

Radio FM (modulasi frekuensi) bekerja dengan prinsip yang serupa dengan radio AM, yaitu dengan memodulasi gelombang radio (penghantar) dengan gelombang audio. Hanya saja, pada radio FM proses modulasi ini menyebabkan perubahan pada frekuensi.
Ketika radio AM umum digunakan, Armstrong menemukan bahwa masalah lain radio terletak pada jenis sinyal yang ditransmisikan. Pada saat itu gelombang audio ditransmisikan bersama gelombang radio dengan menggunakan modulasi amplitudo (AM). Modulasi ini sangat rentan akan gangguan cuaca. Pada akhir 1920-an Armstrong mulai mencoba menggunakan modulasi dimana amplitudo gelombang penghantar (radio) dibuat konstan. Pada tahun 1933 ia akhirnya menemukan sistem modulasi frekuensi (FM) yang menghasilkan suara jauh lebih jernih, serta tidak terganggu oleh cuaca buruk.
Sayangnya teknologi ini tidak serta merta digunakan secara massal. Depresi ekonomi pada tahun 1930-an menyebabkan industri radio enggan mengadopsi sistem baru ini karena mengharuskan penggantian transmiter dan receiver yang memakan banyak biaya. Baru pada tahun 1940 Armstrong bisa mendirikan stasiun radio FM pertama dengan biayanya sendiri. Dua tahun kemudian Federal Communication Comission (FCC) mengalokasikan beberapa frekuensi untuk stasiun radio FM yang dibangun Armstrong. Perlu waktu lama bagi modulasi frekuensi untuk menjadi sistem yang digunakan secara luas. Selain itu hak paten juga tidak kunjung didapatkan oleh Armstrong.
Frustasi akan segala kesulitan dalam memperjuangkan sistem FM, Armstrong mengakhiri hidupnya secara tragis dengan cara bunuh diri. Beruntung istrinya kemudian berhasil memperjuangkan hak-hak Armstrong atas penemuannya. Barulah pada akhir 1960-an FM menjadi sistem yang benar-benar mapan. Hampir 2000 stasiun radio FM tersebar di Amerika, FM menjadi penyokong gelombang mikro (microwave), pada akhirnya FM benar-benar diakui sebagai sistem unggulan di berbagai bidang komunikasi.


Radio internet

Penemuan internet mulai mengubah transmisi sinyal analog yang digunakan oleh radio konvensional. Radio internet (dikenal juga sebagai web radio, radio streaming dan e-radio) bekerja dengan cara mentransmisikan gelombang suara lewat internet. Prinsip kerjanya hampir sama dengan radio konvensional yang gelombang pendek (short wave), yaitu dengan menggunakan medium streaming berupa gelombang yang kontinyu. Sistem kerja ini memungkinkan siaran radio terdengar ke seluruh dunia asalkan pendengar memiliki perangkat internet. Itulah sebabnya banyak kaum ekspatriat yang menggunakan radio internet untuk mengobanti rasa kangen pada negara asalnya. Di Indonesia, umumnya radio internet dikolaborasikan dengan sistem radio analog oleh stasiun radio teresterial untuk memperluas jangkauan siarannya.


Radio satelit

Radio satelit mentransmisikan gelombang audio menggunakan sinyal digital. Berbeda dengan sinyal analog yang menggunakan gelombang kontinyu, gelombang suara ditransmisikan melalui sinyal digital yang terdiri atas kode-kode biner 0 dan 1. Sinyal ini ditransmisikan ke daerah jangkauan yang jauh lebih luas karena menggunakan satelit. Hanya saja siaran radio hanya dapat diterima oleh perangkat khusus yang bisa menerjemahkan sinyal terenkripsi. Siaran radio satelit juga hanya bisa diterima di tempat terbuka dimana antena pada pesawat radio memiliki garis pandang dengan satelit pemancar. Radio satelit hanya bisa bekerja yang tidak memiliki penghalang besar seperti terowongan atau gedung. Oleh karena itu perangkat radio satelit banyak dipromosikan untuk radio mobil. Untuk mendapat transmisi siaran yang baik, perlu dibuat stasiun repeater seperti di Amerika agar kualitas layanan prima.
Perangkat yang mahal (karena menggunakan satelit) membuat sistem ini komersil. Pendengar harus berlangganan untuk dapat mendengarkan siaran radio. Meskipun begitu kualitas suara yang dihasilkan sangat jernih, tidak lagi terdapat noise seperti siaran radio konvensional. Selain itu sebagian besar isi siaran juga bebas iklan dan pendengar memiliki jauh lebih banyak pilihan kanal siaran (lebih dari 120 kanal).
Perusahaan penyedia satelit radio dunia adalah Worldspace yang melayani siaran radio satelit di Amerika, Eropa, Asia, Australia, dan Afrika. Worldspace memiliki tiga satelit yang melayani wilayah berbeda. Di Indonesia, samapai tahun 2002 Worldspace telah bekerja sama dengan RRI, Radio trijaya, Borneo Wave Channel (Masima Group), goindo.com dan Kompas Cyber Media sebagai pengisi konten layanan radio satelit dengan menggunakan satelit Asia Star. mbs fm suci manyar gresik

Radio berdefinisi tinggi (HD Radio)

Radio yang dikenal juga sebagai radio digital ini bekerja dengan menggabungkan sistem analog dan digital sekaligus. Dengan begitu memungkinkan dua stasiun digital dan analog berbagi frekuensi yang sama. Efisiensi ini membuat banyak konten bisa disiarkan pada posisi yang sama. Kualitas suara yang dihasilkan HD radio sama jernihnya dengan radio satelit, tetapi layanan yang ditawarkan gratis. Namun untuk dapat menerima siaran radio digital pendengar harus memiliki perangkat khusus yang dapat menangkap sinyal digital.

Referensi

Sawyer, Stacey C. & Williams, Brian K. (2001). Using Information Technology, New York: McGraw-Hill Company.

Kisah Nabi Muhammad SAW

             Semasa umat manusia dalam kegelapan dan suasana jahiliyyah, lahirlah seorang bayi pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah di Makkah. Bayi yang dilahirkan bakal membawa perubahan besar bagi sejarah peradaban manusia. Bapa bayi tersebut bernama Abdullah bin Abdul Mutallib yang telah wafat sebelum baginda dilahirkan iaitu sewaktu baginda 7 bulan dalam kandungan ibu. Ibunya bernama Aminah binti Wahab. Kehadiran bayi itu disambut dengan penuh kasih sayang dan dibawa ke ka’abah, kemudian diberikan nama Muhammad, nama yang belum pernah wujud sebelumnya.
            Selepas itu Muhammad disusukan selama beberapa hari oleh Thuwaiba, budak suruhan Abu Lahab sementara menunggu kedatangan wanita dari Banu Sa’ad. Adat menyusukan bayi sudah menjadi kebiasaan bagi bangsawan-bangsawan Arab di Makkah. Akhir tiba juga wanita dari Banu Sa’ad yang bernama Halimah bin Abi-Dhuaib yang pada mulanya tidak mahu menerima baginda kerana Muhammad seorang anak yatim. Namun begitu, Halimah membawa pulang juga Muhammad ke pedalaman dengan harapan Tuhan akan memberkati keluarganya. Sejak diambilnya Muhammad sebagai anak susuan, kambing ternakan dan susu kambing-kambing tersebut semakin bertambah. Baginda telah tinggal selama 2 tahun di Sahara dan sesudah itu Halimah membawa baginda kembali kepada Aminah dan membawa pulang semula ke pedalaman.

Kisah Dua Malaikat dan Pembedahan Dada Muhammad

Pada usia dua tahun, baginda didatangi oleh dua orang malaikat yang muncul sebagai lelaki yang berpakaian putih. Mereka bertanggungjawab untuk membedah Muhammad. Pada ketika itu, Halimah dan suaminya tidak menyedari akan kejadian tersebut. Hanya anak mereka yang sebaya menyaksikan kedatangan kedua malaikat tersebut lalu mengkhabarkan kepada Halimah. Halimah lantas memeriksa keadaan Muhammad, namun tiada kesan yang aneh ditemui.
Muhammad tinggal di pedalaman bersama keluarga Halimah selama lima tahun. Selama itu baginda mendapat kasih sayang, kebebasan jiwa dan penjagaan yang baik daripada Halimah dan keluarganya. Selepas itu baginda dibawa pulang kepada datuknya Abdul Mutallib di Makkah.
Datuk baginda, Abdul Mutallib amat menyayangi baginda. Ketika Aminah membawa anaknya itu ke Madinah untuk bertemu dengan saudara-maranya, mereka ditemani oleh Umm Aiman, budak suruhan perempuan yang ditinggalkan oleh bapa baginda. Baginda ditunjukkan tempat wafatnya Abdullah serta tempat dia dikuburkan.
Sesudah sebulan mereka berada di Madinah, Aminah pun bersiap sedia untuk pulang semula ke Makkah. Dia dan rombongannya kembali ke Makkah menaiki dua ekor unta yang memang dibawa dari Makkah semasa mereka datang dahulu. Namun begitu, ketika mereka sampai di Abwa, ibunya pula jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia lalu dikuburkan di situ juga.
Muhammad dibawa pulang ke Makkah oleh Umm Aiman dengan perasaan yang sangat sedih. Maka jadilah Muhammad sebagai seorang anak yatim piatu. Tinggallah baginda dengan datuk yang dicintainya dan bapa-bapa saudaranya.
“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung lalu Dia memberikan petunjuk” (Surah Ad-Dhuha, 93: 6-7)
Abdul Mutallib Wafat
Kegembiraannya bersama datuk baginda tidak bertahan lama. Ketika baginda berusia lapan tahun, datuk baginda pula meninggal dunia. Kematian Abdul Mutallib menjadi satu kehilangan besar buat Bani Hashim. Dia mempunyai keteguhan hati, berwibawa, pandangan yang bernas, terhormat dan berpengaruh dikalangan orang Arab. Dia selalu menyediakan makanan dan minuman kepada para tetamu yang berziarah dan membantu penduduk Makkah yang dalam kesusahan.
Muhammad diasuh oleh Abu Talib
Selepas kewafatan datuk baginda, Abu Talib mengambil alih tugas bapanya untuk menjaga anak saudaranya Muhammad. Walaupun Abu Talib kurang mampu berbanding saudaranya yang lain, namun dia mempunyai perasaan yang paling halus dan terhormat di kalangan orang-orang Quraisy.Abu Talib menyayangi Muhammad seperti dia menyayangi anak-anaknya sendiri. Dia juga tertarik dengan budi pekerti Muhammad yang mulia.
Pada suatu hari, ketika mereka berkunjung ke Syam untuk berdagang sewaktu Muhammad berusia 12 tahun, mereka bertemu dengan seorang rahib Kristian yang telah dapat melihat tanda-tanda kenabian pada baginda. Lalu rahib tersebut menasihati Abu Talib supaya tidak pergi jauh ke daerah Syam kerana dikhuatiri orang-orang Yahudi akan menyakiti baginda sekiranya diketahui tanda-tanda tersebut. Abu Talib mengikut nasihat rahib tersebut dan dia tidaak banyak membawa harta dari perjalanan tersebut. Dia pulang segera ke Makkah dan mengasuh anak-anaknya yang ramai. Muhammad juga telah menjadi sebahagian dari keluarganya. Baginda mengikut mereka ke pekan-pekan yang berdekatan dan mendengar sajak-sajak oleh penyair-penyair terkenal dan pidato-pidato oleh penduduk Yahudi yang anti Arab.
Baginda juga diberi tugas sebagai pengembala kambing. Baginda mengembala kambing keluarganya dan kambing penduduk Makkah. Baginda selalu berfikir dan merenung tentang kejadian alam semasa menjalankan tugasnya. Oleh sebab itu baginda jauh dari segala pemikiran manusia nafsu manusia duniawi. Baginda terhindar daripada perbuatan yang sia-sia, sesuai dengan gelaran yang diberikan iaitu “Al-Amin”.
Selepas baginda mula meningkat dewasa, baginda disuruh oleh bapa saudaranya untuk membawa barang dagangan Khadijah binti Khuwailid, seorang peniaga yang kaya dan dihormati. Baginda melaksanakan tugasnya dengan penuh ikhlas dan jujur. Khadijah amat tertarik dengan perwatakan mulia baginda dan keupayaan baginda sebagai seorang pedagang. Lalu dia meluahkan rasa hatinya untuk berkahwin dengan Muhammad yang berusia 25 tahun ketika itu. Wanita bangsawan yang berusia 40 tahun itu sangat gembira apabila Muhammad menerima lamarannya lalu berlangsunglah perkahwinan mereka berdua. Bermulalah lembaran baru dalam hidup Muhammad dan Khadijah sebagai suami isteri.
Penurunan Wahyu Pertama
Pada usia 40 tahun, Muhammad telah menerima wahyu yang pertama dan diangkat sebagai nabi sekelian alam. Ketika itu, baginda berada di Gua Hira’ dan sentiasa merenung dalam kesunyian, memikirkan nasib umat manusia pada zaman itu. Maka datanglah Malaikat Jibril menyapa dan menyuruhnya membaca ayat quran yang pertama diturunkan kepada Muhammad.
“Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan” (Al-’Alaq, 96: 1)
Rasulullah pulang dengan penuh rasa gementar lalu diselimuti oleh Khadijah yang cuba menenangkan baginda. Apabila semangat baginda mulai pulih, diceritakan kepada Khadijah tentang kejadian yang telah berlaku.
Kemudian baginda mula berdakwah secara sembunyi-sembunyi bermula dengan kaum kerabatnya untuk mengelakkan kecaman yang hebat daripada penduduk Makkah yang menyembah berhala. Khadijah isterinya adalah wanita pertama yang mempercayai kenabian baginda. Manakala Ali bin Abi Talib adalah lelaki pertama yang beriman dengan ajaran baginda.Dakwah yang sedemikian berlangsung selama tiga tahun di kalangan keluarganya sahaja.

Dakwah Secara Terang-terangan

Setelah turunnya wahyu memerintahkan baginda untuk berdakwah secara terang-terangan, maka Rasulullah pun mula menyebarkan ajaran Islam secara lebih meluas.
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (Al-Hijr, 15:94)
Namun begitu, penduduk Quraisy menentang keras ajaran yang dibawa oleh baginda. Mereka memusuhi baginda dan para pengikut baginda termasuk Abu Lahab, bapa saudara baginda sendiri. Tidak pula bagi Abu Talib, dia selalu melindungi anak saudaranya itu namun dia sangat risau akan keselamatan Rasulullah memandangkan tentangan yang hebat dari kaum Quraisy itu. Lalu dia bertanya tentang rancangan Rasulullah seterusnya. Lantas jawab Rasulullah yang bermaksud:
“Wahai bapa saudaraku, andai matahari diletakkan diletakkan di tangan kiriku dan bulan di tangan kananku, agar aku menghentikan seruan ini, aku tidak akan menghentikannya sehingga agama Allah ini meluas ke segala penjuru atau aku binasa kerananya”
Baginda menghadapi pelbagai tekanan, dugaan, penderitaan, cemuhan dan ejekan daripada penduduk-penduduk Makkah yang jahil dan keras hati untuk beriman dengan Allah. Bukan Rasulullah sahaja yang menerima tentangan yang sedemikian, malah para sahabatnya juga turut merasai penderitaan tersebut seperti Amar dan Bilal bin Rabah yang menerima siksaan yang berat.

Kewafatan Khadijah dan Abu Talib

Rasulullah amat sedih melihat tingkahlaku manusia ketika itu terutama kaum Quraisy kerana baginda tahu akan akibat yang akan diterima oleh mereka nanti. Kesedihan itu makin bertambah apabila isteri kesayangannya wafat pada tahun sepuluh kenabiaannya. Isteri bagindalah yang tidak pernah jemu membantu menyebarkan Islam dan mengorbankan jiwa serta hartanya untuk Islam. Dia juga tidak jemu menghiburkan Rasulullah di saat baginda dirundung kesedihan.
Pada tahun itu juga bapa saudara baginda Abu Talib yang mengasuhnya sejak kecil juga meninggal dunia. Maka bertambahlah kesedihan yang dirasai oleh Rasulullah kerana kehilangan orang-orang yang amat disayangi oleh baginda.

Penghijrahan Ke Madinah

Tekanan daripada orang-orang kafir terhadap perjuangan Rasulullah semakin hebat selepas pemergian isteri dan bapa saudara baginda. Maka Rasulullah mengambil keputusan untuk berhijrah ke Madinah berikutan ancaman daripada kafir Quraisy untuk membunuh baginda.
Rasulullah disambut dengan meriahnya oleh para penduduk Madinah. Mereka digelar kaum Muhajirin manakala penduduk-penduduk Madinah dipanggil golongan Ansar. Seruan baginda diterima baik oleh kebanyakan para penduduk Madinah dan sebuah negara Islam didirikan di bawah pimpinan Rasulullas s.a.w sendiri.

Negara Islam Madinah

Negara Islam yang baru dibina di Madinah mendapat tentangan daripada kaum Quraisy di Makkah dan gangguan dari penduduk Yahudi serta kaum bukan Islam yang lain. Namun begitu, Nabi Muhammad s.a.w berjaya juga menubuhkan sebuah negara Islam yang mengamalkan sepenuhnya pentadbiran dan perundangan yang berlandaskan syariat Islam. Baginda dilantik sebagai ketua agama, tentera dan negara. Semua rakyat mendapat hak yang saksama. Piagam Madinah yang merupakan sebuah kanun atau perjanjian bertulis telah dibentuk. Piagam ini mengandungi beberapa fasal yang melibatkan hubungan antara semua rakyat termasuk kaum bukan Islam dan merangkumi aspek politik, sosial, agama, ekonomi dan ketenteraan. Kandungan piagam adalah berdasarkan wahyu dan dijadikan dasar undang-undang Madinah.
Islam adalah agama yang mementingkan kedamaian. Namun begitu, aspek pertahanan amat penting bagi melindungi agama, masyarakat dan negara. Rasulullah telah menyertai 27 kali ekspedisi tentera untuk mempertahan dan menegakkan keadilan Islam. Peperangan yang ditempuhi baginda ialah Perang Badar (623 M/2 H), Perang Uhud (624 M/3 H), Perang Khandak (626 M/5 H) dan Perang Tabuk (630 M/9 H). Namun tidak semua peperangan diakhiri dengan kemenangan.
Pada tahun 625 M/ 4 Hijrah, Perjanjian Hudaibiyah telah dimeterai antara penduduk Islam Madinah dan kaum Musyrikin Makkah. Maka dengan itu, negara Islam Madinah telah diiktiraf. Nabi Muhammad s.a.w. juga telah berjaya membuka semula kota Makkah pada 630 M/9 H bersama dengan 10 000 orang para pengikutnya.
Perang terakhir yang disertai oleh Rasulullah ialah Perang Tabuk dan baginda dan pengikutnya berjaya mendapat kemenangan. Pada tahun berikutnya, baginda telah menunaikan haji bersama-sama dengan 100 000 orang pengikutnya. Baginda juga telah menyampaikan amanat baginda yang terakhir pada tahun itu juga. Sabda baginda yang bermaksud:
“Wahai sekalian manusia, ketahuilah bahawa Tuhan kamu Maha Esa dan kamu semua adalah daripada satu keturunan iaitu keturunan Nabi Adam a.s. Semulia-mulia manusia di antara kamu di sisi Allah s.w.t. ialah orang yang paling bertakwa. Aku telah tinggalkan kepada kamu dua perkara dan kamu tidak akan sesat selama-lamanya selagi kamu berpegang teguh dengan dua perkara itu, iaitu kitab al-Quran dan Sunnah Rasulullah.”

Kewafatan Nabi Muhammad s.a.w

Baginda telah wafat pada bulan Jun tahun 632 M/12 Rabiul Awal tahun 11 Hijrah. Baginda wafat setelah selesai melaksanakan tugasnya sebagai rasul dan pemimpin negara. Baginda berjaya membawa manusia ke jalan yang benar dan menjadi seorang pemimpin yang bertanggungjawab, berilmu dan berkebolehan. Rasulullah adalah contoh terbaik bagi semua manusia sepanjang zaman.